23
JUL
2015

Terapi Takut Mati

Posted By :
Comments : 0

Saat menjelang takbiran lebaran kemarin saya masih sempat menerima klien terapi, bukan diklinik saya, tapi di sebuah apartement MOI (Mal Of Indonesia) di daerah Kelapa Gading Jakarta, tempat tinggal klien saya.

Disana sebenarnya saya hanya ingin mengantarkan anak saya Aina untuk menterapi seorang klien yang tidak mau di terapi diklinik saya di Bekasi, klien maunya diterapi di Apartement tempat tinggalnya. Berhubung klien terapinya adalah seorang laki-laki yang usianya sekitar 40 tahunan, maka saya putuskan untuk mendampingi anak saya.

Ini saya lakukan untuk menjaga dan melindungi anak saya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk menghindari fitnah, karena antara anak saya dan klien berbeda jenis kelamin. Apalagi klien nya adalah orang yang baru dikenal melalui seorang teman yang sudah pernah juga menjadi klien nya.

Setiap menerima klien terapi, saya dan istri selalu menjunjung tinggi, dan menjaga nilai-nilai kehormatan, dan kenyamanan antara kami dengan klien yang mau kami tangani. Jika calon klien nya seorang laki-laki ingin diterapi oleh istri saya, maka saya akan terus mendampingi istri saya dari mulai awal sesi konsultasi hingga selesai terapi.

Begitu juga sebaliknya, jika seorang klien perempuan ingin saya yang menterapi maka saya akan mengajak anak atau istri saya untuk mendampingi saya dari mulai sesi konsultasi hingga terapi. Tentunya ini semua kami sampaikan kepada klien dengan cara komunikasi yang elegan, agar klien tidak merasa tersinggung. Dan Alhamdulillah, biasanya klien bisa menerima alasannya. Dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip, kaidah, dan etika sebagai seorang Hypnotherapist Internasional, yang memegang apapun rahasia klien dengan sepenuh hati.

Kembali kesoal, saya yang harus menemani dan mendampingi anak saya terapi.
Sesampai dilokasi, saya dan anak saya langsung menuju ke lokasi apartement tempat tinggal klien, disebuah apartement yang cukup mewah menurut saya, karena memiliki 3 kamar tidur, Ruang tamu, Ruang keluarga, Dapur, dan Kamar mandi yang sangat bersih.

Disana saya dan anak saya diterima oleh seorang laki-laki yang lebih pantas disebut bapak, karena meski usianya menurut pengakuannya 42 tahun, dan sudah punya 3 orang anak.

Kami diterima dengan baik oleh tuan rumahnya, yang ternyata saat itu dia sedang sendirian, dan hanya dikawal oleh satu orang ajudannya, karena istri dan anak-anaknya sedang ada di sebuah kota yang berbeda. Sebelum sesi konsultasi dimulai ajudannya disuruh keluar sampai nanti selesai terapi akan dihubungi lagi. Rencananya bapak ini mau ada acara liburan bersama keluarganya di bandung selama musim liburan lebaran nanti. Namun bapak ini sangat kwatir dengan kesehatannya, terutama bagian jantungnya yang sering kambuh sakit sejak pernah dioperasi jantung.

Bapak ini tidak ingin nanti saat menemani keluarga dan anak-anaknya liburan dibandung tubuhnya tidak mendukung untuk beraktifitas. Kerena menurut bapak ini rasa sakit dan tidak nyaman di bagian dadanya ini seringkali timbul disaat bapak ini melihat sebuah tontonan tv yang menayangkan iklan obat pencegah sakit jantung, atau sakit dan rasa tidak nyaman itu datang hanya ketika bapak ini melihat orang lain sedang mengelus atau memegang dada.

Saat sesi konsultasi ini awalnya saya hanya diam mendengarkan bapak ini menceritakan semua kecemasan, kekwatiran, dan ketakutan nya, yang menurut saya agak berlebihan. Yang jika ditinjau dari sisi psychologis, bapak ini mengalami gangguan gejala “Psikosomatis”. Mengalami sebuah trauma yang mendalam tentang penyakitnya ini, apalagi bapak ini ditinggal pergi oleh ayahnya dalam usia yang masih tergolong muda, menurut ceritanya ayahnya meninggal diusia 45 tahun karena sakit jantung.

Dari ceritanya saya juga akhirnya tahu, jika bapak ini adalah seorang Ketua Umum Ormas yang sangat disegani disalah satu propinsi di Indonesia. Bapak ini juga masih kerabat dekat dari seorang petinggi negara dari partai politik besar negeri ini. Dari profil wajah, postur tubuh, saya sangat percaya jika bapak ini sangat disegani dan memiliki pengaruh yang besar di negeri ini.

Namun, ada hal menarik yang bapak ini ceritakan kepada saya. Yakni tentang keadaan psikologis dirinya yang sesungguhnya. Diluar para teman-teman, dan kerabat dekat nya mengenal dirinya sebagai sosok yang keras, kuat, hebat, cenderung beringas dan temperamen. Bapak ini sering masuk berita nasional akibat sering melakukan kekerasan kepada orang lain.

Meski diluar tampak garang, namun didalam dirinya sesungguhnya sangat penakut. Itu diakuinya. Bapak ini sangat takut akan kematian. Ya, bapak ini yang awalnya saya tangkap ingin sembuh dari sakitnya ini, ternyata akar masalahnya bukan kepada rasa takut kambuh penyakitnya, tapi problem utamanya adalah rasa “takut mati”.

Lalu tanpa terasa 2 jam lebih bapak ini curhat, dan mengeluhkan semua problemanya kepada kami berdua, saya hanya menimpali sekedarnya saja. Saya tidak terkejut saat bapak ini akhirnya justru meminta agar saya saja yang menterapinya, karena dari sejak awal bapak ini cerita tatapan matanya lebih banyak mengarah kepada saya, dan bukan kepada anak saya.

Lalu saya Tanya kepada anak saya, “gimana aina apakah papah boleh menggantikan?” dan anak saya menjawab, “Ya sudah ga apa-apa, yang membuat bapak ini nyaman saja. Tapi pak kalua sama papah saya biayanya beda..”

Bapak itu langsung menjawab, “Ga apa-apa, berapapun akan saya bayar, nanti selesai terapi ini saya akan langsung bayar kekurangannya..sepertinya saya lebih cocok sama papahnya aina saja..maaf ya aina, ga apa-apa kan?”

“Ga apa-apa pak..saya malah senang, jika bapak ingin diterapi sama papah saya, biar lebih mantaps, kan langsung sama Masternya..” jawab anak saya sambal tersenyum manis.

Karena, menurut bapak itu rasa sakit dan tidak nyaman didadanya seketika berkurang 50% meski hanya baru sesi konsultasi. Makanya bapak ini sangat semangat sekali ingin diterapi oleh saya. Jika baru sesi konsultasi saja sudah bisa membuat dirinya merasa ringan dadanya, apalagi nanti saat selesai sesi terapi. Terapi yang dimaksud bapak ini adalah sesi terapi dengan menggunakan teknik deepening, dimana klien dibuat sedemikian rileks, nyaman, dan tidur saat otak dalam gelombang / frekwensi Alpha-Theta. Bapak ini belum menyadari bahwa saat sesi konsultasi selam 2 jam lebih sebelumnya adalah juga sesi terapi, namun dengan teknik waking terapi. Dua-duanya sama efektifnya,saling melengkapi untuk kesempurnaan sesi terapinya.

Selesai deepening terapi yang kurang lebih sekitar 2 jam-an, bapak ini terbangun dengan ekspresi wajah yang lebih segar dan lebih “sumringah” dari sebelumnya. Terlihat jelas raut wajahnya yang memancarkan rasa percaya dirinya. Bapak ini hanya mengatakan, “Luar biasa rasanya pak, sekarang saya jadi tahu dan mengerti kenapa saya takut mati, dan sekarang saya jadi tahu dan mengerti juga bagaimana agar saya tidak lagi takut mati..bapak sudah memberikan pencerahan lebih dari seorang ustadz, apakah bapak mau saya jadikan Guru Spiritual saya?”

Dan saya hanya berucap, “Alhamdulillah pak, jadikan saja saya sebagai sahabat bapak, saya siap untuk membimbing bapak, namun jangan sebut saya sebagai guru spiritual, agar saya dan bapak bisa dekat tanpa jarak karena status yang melekat..jadikan Allah SWT sebagai tempat bersandar bapak satu-satunya, Insha Allah hidup bapak terasa lebih berkah..”

Masih banyak hal-hal yang ingin saya sharingkan disini, namun karena hari ini saya sudah ada janji ketemuan dengan klien, maka nanti akan saya lanjut di episode berikutnya..

Salam Hypnotherapy!

Hermawan GS

About the Author

Leave a Reply

*